Sikap Seorang Muslim Menghadapi Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama Fikih

Sikap Seorang Muslim Menghadapi Perbedaan Pendapat di Kalangan Ulama Fikih

Seorang muslim itu bisa jadi mujtahid, muttabi’ (orang yang mengikuti ilmu), atau awam. Mujtahid adalah orang yang mampu mempertimbangkan sebuah dalil, menarik permasalahan dari suatu dalil, mengetahui pendapat ulama dan perbedaan mereka, dan mampu melakukan pertimbangan serta membahas permasalahan dengan baik.

Barang siapa berada pada tingkat ijtihad ini, ia tidak boleh mengambil pendapat seorang ulama dalam masalah yang diperselisihkan. Dia wajib mempelajari dan mempertimbangkan masalah tersebut berikut dalil-dalilnya dan beramal sesuai dengan ijtihadnya.

Muttabi’ adalah orang yang belum mencapai tingkat ijtihad, tetapi mampu mempelajari dan mempertimbangkan dalil sebuah masalah. Ia bisa mengetahui dalil dan mampu mengambil masalah dengan dalilnya. Namun, ia belum mengetahui keseluruhan pendapat para ulama, letak perselisihannya, sisi-sisi pendalilan mereka, dan hal-hal yang berhubungan dengannya.

Orang yang seperti ini tidak boleh mengambil kesimpulan suatu masalah sebelum mengetahui dalilnya dan jelas baginya bahwa dalil tersebut kuat lagi jelas dalam pandangannya daripada dalil lain.

Adapun awam, para ulama mengatakan bahwa pendapat yang sebaiknya dipegangi oleh orang awam adalah pendapat mufti (ulama yang memberikan fatwa) kepadanya. Namun, orang awam ini memiliki bagian tanggung jawab ijtihad sesuai dengan keadaan dirinya. Ia tidak dituntut untuk mempelajari dan mempertimbangkan permasalahan serta dalilnya. Namun, ketika tidak mengetahui suatu masalah fikih, ia dituntut untuk:

1. Bertanya kepada orang yang memiliki ilmu dan ia percayai keilmuannya.

2. Ketika terjadi ikhtilaf, hendaknya ia menguatkan (pendapat) ulama yang menurutnya lebih wara’, lebih bertakwa, dan lebih banyak ilmunya.

Oleh karena itu, ketika seorang awam melihat para ulama Ahlus Sunnah berbeda pendapat tentang sebuah masalah, hendaknya ia melihat siapa di antara mereka yang lebih banyak ilmunya, lebih bertakwa, lebih wara’, dan terbukti lebih unggul daripada ulama yang lain. Hendaknya ia bertanya kepada ulama ini dan mengambil pendapatnya dalam masalah tersebut.

Allah berfirman,

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Dan bertanyalah kalian kepada orang yang memiliki ilmu jika kalian tidak mengetahui.” (an-Nahl: 43)

Orang awam tidak boleh mengambil sikap selain ini. Apabila ia mengambil sikap lain, berarti ia menjadikan agamanya mengikuti hawa nafsunya dan biasanya akan mengikuti pendapat yang lebih ringan serta lebih mudah untuk diamalkan. Barang siapa mencari-cari rukhshah (keringanan) dari para fuqaha, ia akan merusak agamanya.

Larangan mencari-cari rukhshah di sini adalah rukhshah yang muncul dari ikhtilaf di kalangan fuqaha, bukan rukhshah yang memang keringanan dari Allah l, seperti keringanan dari-Nya berupa shalat dua rakaat bagi orang yang sedang melakukan perjalanan jauh (safar).

http://qonitah.com/haruskah-berpegang-pada-mazhab-fikih-tertentu/

 

Leave a Reply

(*) Required, Your email will not be published